Selasa, 14 September 2010
Istana Dewa Pulau Dewata
Istana Dewa Pulau Dewata, makna puri Bali abad ke 14-19. Buku yang ditulis Dr. Agus Aris Munandar ini telah menyelamatkan aku dari ketidaktahuan tentang sebuah puri. Banyak hal yang aku kira disebut A berfungsi sebagai B. Ternyata salah semua.
Senin, 13 September 2010
Walikota Denpasar Rai Mantra Luncurkan Novel Ayu Manda
Ini berita yang ditulis wartawan denpasarkota.go.id
Denpasar (denpasarkota.go.id), Denpasar, Kota Denpasar tidak memiliki sumber daya alam, hanya memiliki sumber daya manusia (SDM). Namun hanya SDM kreatif mampu bersaing untuk hidup dan maju. Demikian diungkapkan Walikota Denpasar IB Rai Dharmawijaya Mantra saat peluncuran Novel Ayu Manda karya I Made Iwan Darmawan di Gramedia Duta Plasa, Jumat Malam (9/4). Peluncuran Novel Ayu Manda ditandai dengan pembubuhan tanda oleh Walikota Denpasar dan I Made Iwan Darmawan. Bahkan sejumlah pengunjung di Gramedia membeli novel Ayu Manda serta meminta tanda tangan pada Walikota dan Iwan Darmawan.
![]() |
| Walikota Rai Mantra (kanan) menyalami Iwan Darmawan. |
Endorsement for Ayu Manda
Ayu Manda, novel langka tentang gadis bangsawan Bali, yang terpilih dan memilih untuk menjadi penari. Bersetting era awal tahun 60-an , pembaca dibawa larut dalam keseharian tokoh-tokohnya yang tumbuh dan berkembang bersama pasang surut keadaan, cinta dan pengianatan. Dipaparkan pula arus perubahan pemikiran para tokoh terhadap kasta, poligami dan perdebatan moderenitas serta nasionalisme secara sporadis, membuat novel ini menjadi dinamis.
· Ayu Bulantrisna Djelantik
· Penari legong senior dan dokter
Sinopsis Novel Ayu Manda
Gusti Ayu Manda Sari adalah putri sulung seorang pemimpin puri di desa Munduk Sungkal bernama Gusti Ngurah Amba. Dia menjalani kehidupan sebagai anak bangsawan, selain terpisahkan dari pergaulan rakyat jelata, sejak kecil Manda juga harus mempelajari tarian keraton yang disebut Legong di bawah asuhan guru yang keras dan tegas.
Manda yang berusaha kritis, harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya hidup berpoligami. Di tengah budaya feodal, ia tidak jarang terlibat konflik dengan ke empat ibunya, sementara kedudukannya sebagai perempuan di puri tidak memberinya hak terlalu banyak untuk berekspresi.
Minggu, 12 September 2010
Para Penari Legong
Para penari legong adalah karakter yang membangun struktur novel Ayu Manda. Di Bawah ini saya tampilkan sejumlah penari legong masa kini. Kira kira umurnya sama, ketika Ayu Manda dan kawan kawan menari Legong di tahun 60-an.
Para penari Legong ini pentas di Taman Budaya Bali saat Pesta Kesenian Bali 2010. Terima Kasih buat para penari Legong yang setia meneruskan budaya nasional tanpa pamrih.
Para penari Legong ini pentas di Taman Budaya Bali saat Pesta Kesenian Bali 2010. Terima Kasih buat para penari Legong yang setia meneruskan budaya nasional tanpa pamrih.
![]() |
| all photo by i made iwan darmawan |
DUA FIKSI PEREMPUAN DI BULAN KARTINI
17 April 2010
Sica Harum Wibowo
Masih bicara mengenai poligami, pluralisme, feodalisme, dan patriarki yang melahirkan kekerasan bagi perempuan.
SETIDAKNYA ada dua novel perempuan yang hadir di bulan April ini. Yakni, Ayu Manda dan Entrok. Keduanya berkisah tentang kehidupan perempuan menghadapi poligami, pluralisme, juga kekerasan. Ayu Manda ialah putri bangsawan yang dibesarkan menjadi penari. Ia hidup di awal 1960-an. Sedari kecil, putri dari istri utama di Puri Mundak Sungkal itu sudah memendam kemarahan karena ayahnya memperistri tiga perempuan lain selain ibunya.
18 Penulis Indonesia diundang ke Citibank UWRF 2010
UWRF Press Release JULY 2010 (Bahasa Indonesia)
Sebanyak 18 penulis Indonesia diundang untuk mengikuti Ubud Writers and Readers Festival 2010, perhelatan sastra tingkat dunia yang akan berlangsung pada 6-10 Oktober mendatang di Ubud, Bali.
Kedelapan belas sastrawan tersebut adalah Kurnia Effendi (Jakarta), Medy Lukito (Jakarta), Nusya Kuswatin (Yogyakarta), Arif Riski (Padang), Zelfeni Wimra(Padang), Wa Ode Wulan Ratna (Jakarta), Andha S (Padang), Imam Muhtarom (Blitar), Wendoko (Semarang), Yudhi Heribowo (Solo), W. Hariyanto (Surabaya),Benny Arnas (Sumatera Selatan), Magriza Novita Syahti (Padang), Harry B Koriun (Riau), serta Hermawan Aksan (Bandung), Sunaryono Basuki KS, Ni Made Purnamasari, Iwan Darmawan (Bali).
Langganan:
Postingan (Atom)


